Senin, 15 Februari 2016

Mengemudi Hati di Jalan Lurus bagian ke-2

"Saat kita bicara Islam," demikian Dr. 'Abdul Karim Az-Zaidan dalam salah salah satu pengantar kitabnya, Al Mustafad min Qashashil Qur'an, "yg tergambar paling mula-mula adalah fiqh. ini tak salah. Sebab, bukan fiqh itu tak baik, bukan fiqh itu tak penting, bukan fiqh itu tak bermanfaat. fiqh adlah panduan kita untuk melangkah menapaki dunia hingga ke pintu akhirat. dengan fiqh, hidup kita terbimbing dan terarah, tergamitdan terjaga. tetapi kita harus mencatat satu hal; fiqh hanya jasad kosong dan kerangka mati, jika tak dihidupkan dengan ruh ketaatan."


Jadi bagaimana menghadirkan ruh ketaatan itu bagi tiap amalan kita?


Al Qur'an menjawab dengan susunan isinya yg menabjukan. Syaikh 'Abdul Wahhab Khalaf menghitung bahwa ayat hukum dalam Al Qur'an tak lebih dari 150 buah. pun Ahmad Amin menyatakan hanya sekitar 200 saja. Artinya, yg menempati bagian terbesar muatan Kalamullah ini justru bukanlah fiqh, melainkan cerita. 


Dari Sa'id ibn Jubair, dari Ibn 'Abbas, beliau menyatakan, "Al Qur'an ini, 6000 ayatnya adalah kisah, 600 ayatnya adlah tanda kebesaran Allah, 60 aaytnya adalah aturan mu'amalah, dan 6 ayatnya adalah hukum-hukum hudud." Atsar ini mungkin keliru sering disalahfahami untuk dijumlahkan, sehingga dikatakan jumlah ayat Al Qur'an ada 6.666. Padahal, dalam riwayat ini, bisa saja satu ayat berisi irisan lebih dari satu kandungan sehingga menurut perhitungan para ulama jumlahnya sekira 6.236.


Maka semua ulama sepakat bahwa bagian terbesar dari kandungan Al Qur'an adalah kisah. Ialah kisah penjelasan bagi kita tentang jalan yg lurus. Kisah yg menjadi petunjuk kita untuk meniti jalan yg lempeng. Kisah yg menjadi pembeda kita untuk memisahkan jalan yg shalih dzri jalan sesat. Kisah yg menjadi kabar gembira dan peringatan untuk teguh di jalan. Kisah yg menjadi cahaya saat mata batin kita terkaburkan oleh debu yg hinggap dijalan kebenaran. Kisah yg menjadi penyembuh luka-luka kala hati dirancah dijalan kebajikan.


Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yg Kaulimpahi cinta; dalam sempit maupun lapang, senyum dan juga lukanya. Maka, ya Allah, walau tak Kaukayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniakan kami syukur dan tawadhu'nya., yg hormati semut serta burung hud-hud.


Mka, ya Allah, walau tak Kauberi kami daya raga dan keajaiban seperkasi]a Musa, curahi kami keberanian dan keteguhan dalam memimpin kaum yg sering membuat kecewa. Maka, ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da'wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.


Maka, ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menelan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikan negeri. Maka, ya Allah,walau keajaiban tak selalu menyertai perjalanan, penihi hati kami dengan kasih mesra seperti 'Isa hingga tunduklah musah dalam cinta.


Maka, ya Allah, walu tak perlu ditelan ikan digelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan  Yunus yg rintih doanya Kaudengarkan. Maka, ya Allah, walau tak usah kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yg tabah.


Maka, ya Allah, walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yg shalih dan shalihah. Mak, ya Allah, walau ibadah kami tak seterpelihara Zakaria dan kesucian kami tak seterjaga Maryam; nikamatkan bagi kami bakti anak yg mulia seperti Yahya dan 'Isa.


Maka, ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa seperti surga seelum surga, terimalah taubat atas segala dsa. Maka, ya Allah, walau hidup kami tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya'qub, jadikan kami hanya mengadu kepada-Mu semata, sehingga menampilkan kesabaran cantik yg mencahaya.


Maka, ya Allah, walau tak harus berlari dan bersembunyi sebagai mana Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al-Haq didepan tirani. Maka, ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi hati kami akhlaq pemimpin; yg senantiasa menyeru pada iman, mebebaskan ummat, serta menebar manfaat.


Maka, ya Allah, jangan kau Kaukaruniai pasangan mirip Fir'aun teguhkan kami bagai Aisyah yg mukminah, anugerahkan rumah di sisi-Mu didaalam surga. Maka, ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik Ibunda Musa, bisikan kami kejernihan-Mu di firasat kamisaat menghapi musykilnya hari-hari. Maka, ya Allah,walau ilmu kami tak seutuh Luqman Al-Hakim; tajamkan pikir dan rasa kami untuk mengambil 'ibrah di setiap kejadian.


Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.


***


Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu berkelok dan menikung, menanjak dan melongsor, membentang dan menghimpit. Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu curam dan terjal, deras dan gemuruh, keras dan runcing.


Di lapis-lapis keberkahan, tugas hidup kita adlah mengemudi hati mmenuju Allah di jalan yg lurus. Maka pangkal kelurusan itu oertama-tama adalah hati yg tak pernah berbelok dari Allah sebagai sesembahan yg haq. lurus, sebab hanya kepada Allah tunduknya, taatnya, dan tenteramnya. Lurus, sebab hanya untuk Allah yakinnya, pasrahhnya, dan kebajikannya. Lurus, sebab hanya bersama Allah gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya.



~Karya: Ust Salim A Fillah
Dikutip dari: Lapis-Lapis Keberkahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar