Minggu, 07 Februari 2016

“KARAKTER IKHWAN SEJATI”

Ana hanya ingin berbagi, kepada Antum, yang ana harapkan kita semua menjadi seorang ikhwan sejati. Namun, ana juga ingin berbagi kepada para akhwat, agar bisa membantu untuk tidak menghalangi keinginan ikhwan tersebut. Lebih kepada interaksi ikhwan dan akhwat, karena itulah yang menjadi bahan kemirisan ana beberapa tahun ini. Di ambil dari tulisan yang sudah banyak di internet, namun ana pertegas lagi dengan harapan, kita menjadi lebih paham akan karakter ikhwan sejati, yang dicinta Allah Swt. dan didamba Rasulullah Saw. Semoga bermanfaat.

***

Ikhwan sejati bukan dilihat dari bagaimana dia dihormati di kampus, tetapi dilihat dari bagaimana dia dihormati di dalam rumah. Dari dalam rumahlah seorang diketahui shaleh dan shalihah kah ia? Ingat... Seorang aktivis akan menegakkan syari’at dimanapun ia berada. Dan ketika ia dihormati dalam rumahnya, maka, itu adalah sebuah tanda bahwa ia sudah menegakkan syari’at didalam rumahnya. Dan sebelum menjadi aktivis dikampus, seseorang wajib menjadi aktivis didalam rumah!

Ikhwan sejati bukan dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dilihat dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa. Tidak hanya mengenal nama, tapi juga memahami apa permasalahan yang sedang dihadapi oleh saudaranya. Ingat, saudaranya, bukan saudarinya! Karena masing masing ikhwan dan akhwat punya jalur masing masing. Dan kita tidak bisa pindah jalur. Ikhwan mengurusi yang akhwat, dan akhwat yang mengurusi ikhwan. Tidak seperti itu! Ia sadar, lebih banyak al-akh yang perlu ia perhatikan. Lewat kiriman tausiyah misalnya. Akhwat tidak perlu dikirimi tausiyah, karena ia juga punya seorang saudari yang akan mengiriminya tausiyah. Sama seperti antum kepada saudara antum lainnya. Jadi kita tak peru lagi bukan untuk mengingatkan saudari-saudari disana melalui kiriman tausiyah tersebut?! *Ana pikir, pasti ada rasa risih seorang akhwat yang dapet SMS tausiyah dari seorang ikhwan. Betul tidak ukh?! Hhhehe  

Ikhwan sejati bukan dilihat dari banyaknya solusi yang ia berikan, tetapi dilihat dari sikap bijaknya memahami persoalan. Ia mengerti betul apa yang masalahnya dan apa solusi terbaiknya. Tidak cukup memberikan ilmu yang didapat dari baca buku, tapi memberikan ilmu atas setiap pengalamannya dalam bertindak. Dan sebaik baik ilmu itu adalah, pengalaman. 

Ikhwan sejati bukan dilihat dari padatnya amanah/agenda yang akan ia jalankan, tetapi dilihat dari baiknya kualitas amanah/agenda tersebut yang telah dijalankan. Bukan kualitas menjadi seorang ketua yang saya maksudkan disini. Tapi kualitas kontribusinya, walaupun hanya berada dibarisan paling belakang. Tapi itu jauh lebih baik ketika ia bertanggungjawab penuh atas apa yang dibebankan kepadanya.

Ikhwan sejati bukan dilihat dari keras suara nya dia membaca Al-Qur’an, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca. Ia memahami betul kisah seorang shahabat Rasulullah, yang shahabat itupun malu bertemu Rasulullah ketika ayat yang diturunkan kemarin belum ia amalkan sampai detik bertemu dengan Rasulullah itu.

Ikhwan sejati bukan dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada di balik itu. Ia menjaga betul setiap apa yang terlintas dalam hatinya. Sangat sangat menjaga! Tidak ada yang mengisi kekosongan waktunya selain dzikir, istighfar, shalawat, dll. Di setiap langkahnya. Berdirinya. Duduknya. Hati hanya tertuju pada Allah, penguasa segala hati manusia. Ketika ada kecenderungan dalam hatinya untuk memikirkan seorang akhwat, langsung ia beristighfar dan tak lagi ingin memikirkannya. “Sorry ukh, sudah cukup asma Allah dihati ini” 

Ikhwan sejati bukan dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya. Ia memperhatikan kebutuhan orang didekatnya. Orang tua. Anak kecil. Adik atau kakak kelas. Percuma bahu kekar dibanggakan jika masih terdiam melihat perempuan susah payah membawa beban ditangannya! Pura-pura tidak melihat ada perempuan yang membutuhkan pertolongan. Atau malah cengar-cengir melihat akhwat yang nekat memindahkan kursi atau meja menjelang sebuah kajian –memorial acara kampus-. Padahal ia sudah paham, bahwa membantu menunaikan hajat saudaranya, lebih Rasul cintai, daripada beribadah –sunnah- dalam rumah Allah. Beribadah saja sampai dikeduakan, lha apalagi kalo kita memang sedang tidak ada pekerjaan?!

Ikhwan sejati bukan dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari keberaniannya mengatakan kebenaran. Miris, jika masih ada ikhwan yang bisa bercanda ‘mengejek’ seorang akhwat, apalagi sangat bertentangan dengan kebenaran. Sedangkan ikhwan lain, tidak ada yang berani membela kebenaran dari akhwat tersebut ditengah tertawanya para aktivis itu. Iya paham, itu hanya bercanda. Tapi sekali lagi, tidak ada yang mengetahui kondisi hati seseorang. Bagaimana jika nanti ejekan yang diucapkan itu, akan menjadi benteng kebenaran setelahnya?! Parahnya lagi, bukan kebenaran yang dilantangkan, malah ejekkan yang terus dilanjutkan. Tidak kapok sampai kebenaran itu, dinyatakan dengan ketegasan si akhwat. *Dan ikhwan.. Ga malu kah sampai mendapat ketegasan dari akhwat gitu?! Kalo saya sih, malu. Rasanya gimanaaaaa gituu  

Ikhwan sejati bukan dilihat dari tunduknya pandangan ketika berbicara, tetapi dilihat dari kemampuannya menundukkan pandangan disaat keadaan lengah. Ketika ia berada di tengah banyak orang, lalu seorang akhwat melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa ia menahan pandangannya dari akhwat tersebut. Jika ia melihat mereka lengah, ia pandangi akhwat tersebut! Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat akhwat tersebut. Astaghfirullahalazhiim. Ana tidak mau kita semua termasuk golongan mata orang yang berkhianat itu, seperti yang ditafsirkan Ibnu Abbas rahimakumullah mengenai QS. Al-Mu’min ayat 19 itu, wahai akhi dan ukhti...

Ikhwan sejati bukan dilihat dari seringnya ia mendengar lagu-lagu haraki, tetapi dilihat ketika ia memutuskan untuk mendengar ayat Al-Qur’an daripada lagu-lagu haraki. Ia bisa menahan dirinya untuk mendengar lagu-lagu haraki dan sama sekali tidak ada keinginan untuk mendengar lagu yang mendayu dayu. Atas kecintaanya hanya pada Allah Swt., ia sadar bahwa hanya murattal-lah yang pantas didengar. Lagu haraki hanya dibolehkan ketika keadaan sudah teramat futur. Futur se-futur futur-nya! Apalagi lagu yang mendayu-dayu, bukan level bagi ia yang sudah bertahun tahun tarbiyah dan berkali kali mengisi kajian. Lagu mendayu hanya untuk bagi pemula untuk mengalihkan diri dari lagu jahiliyah. Lantas, masih pantaskah kita mendengar lagu itu, wahai lelaki yang mengaku ikhwan sejati?! 

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuji, tetapi dari komitmennya untuk tidak memuji seorang akhwat. Sebisa mungkin ia menahan kata kata pujian yang ingin ia utarakan, hanya untuk menjaga keduanya dari fitnah. Ya, walaupun hanya sekedar fitnah dalam hati. Namun sadarkah kita akhi... Bahwa fitnah hati itulah yang teramat parah! Seringkali saya melihat atau juga mendengar –tidak sengaja- keluhan akhwat yang mendapat pujian dari seorang ikhwan. Dan ketika itupun, akhwat tersebut mengatakan “Saya harap bukan ikhwan seperti itu yang akan menjadi suami saya kelak”. Jadi sudah pahamkah antum, tentang pandangan seorang akhwat yang mendapat pujian dari kita, wahai akhi?! Ya, betul. Sangat sangat tidak diharapkan untuk menjadi pendampingnya kelak!

***

Ana mohon maaf jika banyak hati yang tergores. Namun, ana berharap besar adanya pengobatan terhadapnya. Dan jika nantinya hati tersebut merasa lebih sehat dari sebelumnya, ana harap Antum bisa membagi tulisan ini. Agar makin banyak hati yang tergores dan bisa jauh lebih sehat dari keadaan sebelumnya. Wallahu a’lam bishshawaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar